| Asal Mula Istilah "Bus Cepat" | |||||
Era pertengahan tahun 70an label PO hanya dua macam, polos tanpa "Ekspress", atau diembel embeli ekspress. Istilah ekspress tidak mengacu pada bumel (bus ngompreng) atau tidak tapi untuk menunjukkan bahwa bus tsb berjalan cepat.
Sebetulnya banyak bus malam yang cukup "pedhe" tanpa embel-embel ekspres di labelnya. Tapi bus bumel ada juga yang pakai label ekspress misalnya, Agung Ekspress, Belalang Ekspress dan lainnya. Kenapa label ekspress kemudian lenyap? Berawal dari keprihatinan gubernur Jateng Soepardjo Roestam (alm) tentang beberapa kecelakaan bus malam yang merenggut korban jiwa cukup banyak. Saat itu walau tabrakan bus relatif jarang karena busnya sedikit, tapi sekalinya ada kejadian korban tewas bisa banyak, maklum masih satu jalan dua arah tanpa pemisah. Menurut pak Pardjo salah satu hal yang memicu supir bus untuk ngebut adalah label "ekspress" pada busnya. Kalau bus ekspress supirnya santai penumpang protes dan "ngomporin" supir agar jalan lebih cepat. Kemudian pak Pardjo mengeluarkan instruksi bahwa semua bus yang lewat Jateng tidak boleh menggunakan label "ekspress". Ternyata aturan ini sangat manjur sehingga label "ekspress" lenyap sampai saat ini. Beberapa PO yang terlanjur populer dengan label "ekspress" terpaksa mengubah jadi "cepat", misalnya JET (Jogja Express Transportation), BE (Bandung Express) jadi BC, tapi kemudian kembali lagi ke BE. Perubahan label dari "ekspress" ke "cepat" ternyata "diterima" oleh pak Pardjo. Buktinya setelah beliau naik jadi Mendagri tidak ada larangan penggunaan label "cepat". Karena pengertian cepat disini bukan cepat karena ngebut tapi cepat karena tidak ngompreng dan berhenti di banyak terminal. | |||||
Rabu, 09 Desember 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar