Rabu, 23 Desember 2015

uisi pirang-pirang tahun nkas

UISI Universitas Internasional Semen Indonesia suatu universitas yang dinaungi oleh koorporasi raksasa. UISI saat ini adalah sebuah universitas kecil yang membawa harapan ribuan mahasiswanya untuk menunjang masa depan mereka menjadi lebih baik. Dibalik semua kelebihan yang dimiliki UISI mempunyai banyak kekurangan yang harus segera diperbaiki. Mulai dari kararkteristik mahasiswanya harus mempunyai sopan santun, pribadi yang disiplin, dan taat aturan,

          Sarana dan prasarana yang dimiliki pun tak kalah penting untuk dikembangkan dan diperbaharui, mulai dari  kelas, mading, kantin, tempat parkir, bahkan taman terbuka. Untuk UKM di UISI sendiri harus diperbanyak karena mahasiswa sangat membutuhkan wadah untuk mencurahkan kreativitasnya. Mulai dari UKM olah raga, seni, silat, hingga bisnis harus ada untuk menunjang kegiatan mahasiswa. Dan disetiap UKM diberikan beberapa pembimbing sebagai pendukung.

Selasa, 15 Desember 2015

Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System)

Definisi DSS

Konsep Decision Support System pertama kali dinyatakan oleh Michael S. Scott Morton pada tahun 1970 dengan istilah “Management Decision System” (Sprague and Watson: 1993: 4) (Turban: 1995) (McLeod: 1995). Setelah pernyataan tersebut, beberapa perusahaan dan perguruan tinggi melakukan riset dan mengembangkan konsep Decision Support System. Pada dasarnya DSS dirancang untuk mendukung seluruh tahap pengambilan keputusan mulai dari mengidentifikasi masalah, memilih data yang relevan, menentukan pendekatan yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan, sampai mengevaluasi pemilihan alternatif.
Ada berbagai pendapatan mengenai DSS, antara lain disebutkan di bawah ini (Daihani: 2001: 54):
  1. Menurut Scott,DSS merupakan suatu sistem interaktif berbasis komputer, yang membantu pengambil keputusan melalui penggunaan data dan model-model keputusan untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya semi terstruktur dan tidak terstruktur, yang intinya mempertinggi efektifitas pengambil keputusan.
  2. Menurut Alavi and Napier,DSS merupakan suatu kumpulan prosedur pemrosesan data dan informasi yang berorientasi pada penggunaan model untuk menghasilkan berbagai jawaban yang dapat membantu manajemen dalam pengambilan keputusan. Sistem ini harus sederhana, mudah dan adaptif.
  3. Menurut Little,DSSadalah suatu sistem informasi berbasis komputer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangani berbagai permasalahan yang semi terstruktur ataupun tidak terstruktur dengan menggunakan data dan model.
  4. Menurut Sparague and Carlson, DSS adalah sistem komputer yang bersifat mendukung dan bukan mengambil alih suatu pengambilan keputusan untuk masalah-masalah semi terstruktur dan tidak terstruktur dengan menggunakan data dan model.
  5. Sedangkan menurut Al-Hamdany (2003: 519),DSS adalah sistem informasi interaktif yang mendukung proses pembuatan keputusan melalui presentasi informasi yang dirancang secara spesifik untuk pendekatan penyelesaian masalah dan kebutuhan-kebutuhan aplikasi para pembuat keputusan, serta tidak membuat keputusan untuk pengguna.
Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa DSS adalah suatu sistem informasi yang spesifik yang ditujukan untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan persoalan yang bersifat semi terstruktur secara efektif dan efisien, serta tidak menggantikan fungsi pengambil keputusan dalam membuat keputusan.
Karena DSSmerupakan suatu pendukung pengambilan keputusan dengan menggunakan berbagai informasi yang ada, maka Raymond McLeod Jr. (1993) memasukkan DSS sebagai bagian dari Management Information System dan mendefinisikan DSS sebagai sistem penghasil informasi spesifik yang ditujukan untuk memecahkan suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh manajer pada berbagai tingkatan. Menurut Laudon dan Laudon (1996: 46) meskipun DSS merupakan bagian dari MIS, namun terdapat perbedaan di antara keduanya. Perbedaan utamanya yaitu:
  • MIS menghasilkan informasi yang lebih bersifat rutin dan terprogram.
  • DSS lebih dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan yang spesisfik.

Karakteristik DSS

Beberapa karakteristikDSSyang membedakan dengan sistem informasi lainnya adalah:
  1. Berfungsi untuk membantu proses pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah yang sifatnya semi terstruktur maupun tidak terstruktur.
  2. Bekerja dengan melakukan kombinasi model-model dan tehnik-tehnik analisis dengan memasukkan data yang telah ada dan fungsi pencari informasi.
  3. Dibuat dengan menggunakan bentuk yang memudahkan pemakai (user friendly) dengan berbagai instruksi yang interaktif sehingga tidak perlu seorang ahli komputer untuk menggunakannya.
  4. Sedapat mungkin dibuat dengan fleksibilitas dan kemampuan adaptasi yang tinggi untuk menyesuaikan dengan berbagai perubahan dalam lingkungan dan kebutuhan pemakai.
  5. Keunikannya terletak pada dimungkinkannya intuisi dan penilaian pribadi pengambil keputusan untuk turut dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Rabu, 09 Desember 2015

Asal Mula Istilah "Bus Cepat"  
 
Era pertengahan tahun 70an label PO hanya dua macam, polos tanpa "Ekspress", atau diembel embeli ekspress. Istilah ekspress tidak mengacu pada bumel (bus ngompreng) atau tidak tapi untuk menunjukkan bahwa bus tsb berjalan cepat.

Sebetulnya banyak bus malam yang cukup "pedhe" tanpa embel-embel ekspres di labelnya. Tapi bus bumel ada juga yang pakai label ekspress misalnya, Agung Ekspress, Belalang Ekspress dan lainnya.

Kenapa label ekspress kemudian lenyap? Berawal dari keprihatinan gubernur Jateng Soepardjo Roestam (alm) tentang beberapa kecelakaan bus malam yang merenggut korban jiwa cukup banyak. Saat itu walau tabrakan bus relatif jarang karena busnya sedikit, tapi sekalinya ada kejadian korban tewas bisa banyak, maklum masih satu jalan dua arah tanpa pemisah.

Menurut pak Pardjo salah satu hal yang memicu supir bus untuk ngebut adalah label "ekspress" pada busnya. Kalau bus ekspress supirnya santai penumpang protes dan "ngomporin" supir agar jalan lebih cepat. Kemudian pak Pardjo mengeluarkan instruksi bahwa semua bus yang lewat Jateng tidak boleh menggunakan label "ekspress". Ternyata aturan ini sangat manjur sehingga label "ekspress" lenyap sampai saat ini.

Beberapa PO yang terlanjur populer dengan label "ekspress" terpaksa mengubah jadi "cepat", misalnya JET (Jogja Express Transportation), BE (Bandung Express) jadi BC, tapi kemudian kembali lagi ke BE.

Perubahan label dari "ekspress" ke "cepat" ternyata "diterima" oleh pak Pardjo. Buktinya setelah beliau naik jadi Mendagri tidak ada larangan penggunaan label "cepat". Karena pengertian cepat disini bukan cepat karena ngebut tapi cepat karena tidak ngompreng dan berhenti di banyak terminal.
Asal Mula Istilah "Bus Cepat"  
 
Era pertengahan tahun 70an label PO hanya dua macam, polos tanpa "Ekspress", atau diembel embeli ekspress. Istilah ekspress tidak mengacu pada bumel (bus ngompreng) atau tidak tapi untuk menunjukkan bahwa bus tsb berjalan cepat.

Sebetulnya banyak bus malam yang cukup "pedhe" tanpa embel-embel ekspres di labelnya. Tapi bus bumel ada juga yang pakai label ekspress misalnya, Agung Ekspress, Belalang Ekspress dan lainnya.

Kenapa label ekspress kemudian lenyap? Berawal dari keprihatinan gubernur Jateng Soepardjo Roestam (alm) tentang beberapa kecelakaan bus malam yang merenggut korban jiwa cukup banyak. Saat itu walau tabrakan bus relatif jarang karena busnya sedikit, tapi sekalinya ada kejadian korban tewas bisa banyak, maklum masih satu jalan dua arah tanpa pemisah.

Menurut pak Pardjo salah satu hal yang memicu supir bus untuk ngebut adalah label "ekspress" pada busnya. Kalau bus ekspress supirnya santai penumpang protes dan "ngomporin" supir agar jalan lebih cepat. Kemudian pak Pardjo mengeluarkan instruksi bahwa semua bus yang lewat Jateng tidak boleh menggunakan label "ekspress". Ternyata aturan ini sangat manjur sehingga label "ekspress" lenyap sampai saat ini.

Beberapa PO yang terlanjur populer dengan label "ekspress" terpaksa mengubah jadi "cepat", misalnya JET (Jogja Express Transportation), BE (Bandung Express) jadi BC, tapi kemudian kembali lagi ke BE.

Perubahan label dari "ekspress" ke "cepat" ternyata "diterima" oleh pak Pardjo. Buktinya setelah beliau naik jadi Mendagri tidak ada larangan penggunaan label "cepat". Karena pengertian cepat disini bukan cepat karena ngebut tapi cepat karena tidak ngompreng dan berhenti di banyak terminal.